SELAMA PANDEMI, 6 RIBU ANAK TERPAPAR COVID-19

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatatkan ada 6.663 kasus anak terpapar virus corona sepanjang pandemi Covid-19.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatatkan ada 6.663 kasus anak terpapar virus corona sepanjang pandemi Covid-19.

Ketua IDAI DIY, Sumadiono menjelaskan, terhitung 12,7 persen dari total kasus Covid-19 di DIY merupakan anak usia nol hingga 18 tahun, berdasarkan catatan per 20 Juni 2021.

“Di DIY anak terkonfirmasi positif 12,7 persen atau 6.663 kasus anak dari 52.641 total kasus (per 20 Juni),” kata Sumadiono saat sesi jumpa pers secara daring, Sabtu 26 Juni 2021.

Dengan situasi tersebut, menempatkan DIY di posisi ke-lima untuk provinsi dengan jumlah kasus Covid-19 pada pasien anak.

“Ada lonjakan kasus Covid anak di DIY. Tertinggi per 20 Juni 2021 ada tambahan kasus baru 708. Sebelumnya tanggal 13 Juni kenaikan kasus adalah 436, minggu-mingu sebelumnya tambahan kasus baru rata-rata 257 kasus per minggu,” urai Sumadiono.

IDAI menilai angka kasus Covid-19 di DIY cukup tinggi karena jumlah penduduk DIY yang tak terlalu banyak ketimbang provinsi lain, yakni sekitar 3,67 juta.

Sementara itu, IDAI menilai lonjakan kasus pada anak pada Juni 2021 dijarenakan lemahnya penerapan protokol kesehatan. Banyak orang tua yang abai dengan mengajak anak ke sumber kerumunan atau tidak melengkapi anak dengan alat pelindung diri memadai.

“Dengan bertambahnya jumlah kasus total Covid-19 di DIY secara tajam, berarti sumber penularan di masyarakat semakin banyak, dan anak-anak menjadi
berisiko lebih tinggi untuk tertular dibandingkan periode sebelumnya,” jelasnya.

Dari catatan IDAI, kasus kematian pada pasien usia anak sebanyak tujuh orang selama masa pandemi Covid-19. Rentang usia kurang dari satu tahun untuk pasien termuda dan 17 tahun untuk yang tertua.

Sebagian dari mereka diketahui mengidap penyakit penyerta atau komorbid, antara lain berupa kanker tulang metastasis paru, sindrom Costello, epilepsi, gizi buruk, serta leukemia. Satu pasien dalam status koinsiden (terjadi bersamaan) menderita demam berdarah.

IDAI menyimpulkan angka kematian atau fatality rate pada pasien anak tergolong rendah. Yaitu hanya 0,09 persen.

“Keparahan dan kematian karena Covid-19 pada anak lebih rendah daripada dewasa, tetapi jika anak terkonfirmasi dapat menularkan kepada orang lain, terutama yang serumah atau kontak erat. Termasuk dewasa dan manula, memiliki komorbid maupun tidak,” paparnya.

Menurut IDAI, fasilitas layanan kesehatan (fasyankes) saat ini tengah dalam fase kritis.

Persediaan obat untuk Covid-19, seperti antivirus, antikoagulan, anti IL-6, dan lain sebagainya, termasuk terapi penunjang (oksigen) saat ini kian menipis lantaran melonjaknya jumlah pasien.

Di lain sisi, lanjut dia, tidak semua rumah sakit dilengkapi fasilitas ICU untuk anak.

“Tidak semua rumah sakit memiliki dokter dan perawat dan fasilitas lengkap untuk menangani Covid-19 pada anak. Karena jumlah pasien anak tidak sebanyak yang dewasa, pasien anak kurang mendapat prioritas,” bebernya.

IDAI pun mengeluarkan sederet anjuran atau rekomendasi untuk menekan kasus penularan Covid-19 pada anak. Disiplin penerapan protokol kesehatan baik di dalam maupun di luar rumah oleh orangtua dan anak merupakan salah satunya.

Lalu, menyarankan skema daring untuk seluruh kegiatan yang melibatkan anak usia nol sampai 18 tahun. Sekaligus meminta sekolah tatap muka ditunda.

Kemudian, menghindari area dengan ventilasi tertutup serta kerumunan jika terpaksa harus bermobilitas di luar rumah.

“Untuk mencegah penyakit berbahaya tetap melengkapi imunisasi rutin. Bila anak sakit segera konsul telemedicine dengan dokter,” pungkasnya.

sumber : cnn indonesia

Total
0
Shares
Previous Article

SEORANG WNI DI JEPANG DILAPORKAN MERUSAK MOBIL DENGAN KONDISI BUGIL

Next Article

BAND METAL HIJABERS ASAL INDONESIA AKAN TAMPIL DI FESTIVAL MUSIK WACKEN OPEN AIR 2022

Related Posts