KENYATAAN KEHIDUPAN ANAK MILENIAL DI JAKARTA YANG TAK SEINDAH KATA MEDIA

Generasi milenial, yaitu generasi yang lahir pada 1980 – 2000, kerap menjadi topik utama di berbagai media lokal dan internasional.

Generasi milenial, yaitu generasi yang lahir pada 1980 – 2000, kerap menjadi topik utama di berbagai media lokal dan internasional. Media menggambarkan generasi yang mendominasi populasi dunia saat ini tersebut sebagai anak-anak muda berpendidikan dan berpenghasilan tinggi, gemar membeli kopi dan memesan makan lewat aplikasi online, serta bekerja di industri teknologi dan kreatif.

Karena gencarnya gambaran tersebut, akhirnya citra seperti itulah yang terbentuk di benak masyarakat tentang generasi milenial. Tak sedikit pula generasi baby boomers ke atas yang kurang senang dengan generasi milenial karena dianggap menggerus gaya hidup dan lapangan kerja konvensional.

Namun, artikel dari jakartapost.com (22/10/2021) menguak sebuah realitas yang mengubah persepektif masyarakat terhadap generasi milenial selama ini. Ternyata, sebagian besar generasi milenial di Jakarta tak hidup seindah yang digambarkan media-media.

Penelitian dari Wittgenstein Centre for Demography and Global Human Capital pada 2020, misalnya, menunjukkan kalau 35 persen dari 31,3 juta populasi milenial hanya memiliki pendidikan terakhir Sekolah Dasar (SD). Jauh berbeda dari stereotipe selama ini, ternyata hanya 0,65 persen milenial yang menempuh pendidikan tinggi di universitas.

Dalam hal karier, sebagian besar milenial di Jakarta merupakan pekerja kerah biru bergaji rendah. Salah satu milenial yang diwawancara Jakarta Post mengaku bahwa dirinya bekerja sebagai supir agen pengiriman dengan waktu kerja enam hari seminggu. Ia memperoleh gaji Rp 1,5 juta per bulan.

Selain itu, realitas lain yang banyak ditemui di kalangan milenial adalah perempuan yang menikah muda. Studi pada 2010 menunjukkan sekitar 56 persen perempuan berusia 20 – 34 di Jakarta telah menjadi ibu dan dua pertiga di antaranya pengangguran.

Realitas di atas cukup mengejutkan karena jauh berbeda dengan keistimewaan milenial yang selama ini disorot media. Pemerintah pun diharapkan dapat menyadari kenyataan ini dan membantu para milenial memperoleh pekerjaan yang layak.

Total
0
Shares
Previous Article

SUARA PRIA ASAL BANDUNG DENDEN GONJALEZ BERHASIL GUNCANG THE VOICE BULGARIA

Next Article

DKI JAKARTA SIAP JADI TUAN RUMAH FORMULA E 2022

Related Posts