Jatuh Cinta Hanya Dirasakan Maksimal 3 Kali. Benarkah?

Pernahkah kamu merasakan jatuh cinta? Kalau sudah, seberapa sering kamu merasakannya?

Pernahkah kamu merasakan jatuh cinta? Kalau sudah, seberapa sering kamu merasakannya?

Kalau kamu merasakannya lebih dari tiga kali, bisa jadi tak semuanya adalah perasaan cinta, melainkan hanya perasaan suka. Sebab menurut psikolog, seperti dilansir dari brightside.me, seseorang merasakan jatuh cinta yang tulus hanya tiga kali dalam hidup mereka. 

Berikut tahapan-tahapannya:

  1. Cinta seperti dongeng (fairy tale love)

Cinta ini biasanya dirasakan seseorang saat masih muda. Mereka merasa cinta mereka kepada pasangan seperti apa yang diceritakan di dalam dongeng-dongeng.

Karena orang mengidealisasikan cinta mereka seperti kisah dongeng, mereka cenderung mengabaikan masalah-masalah kecil yang terjadi dan perasaan mereka sesungguhnya. Bagi mereka, bagaimana hubungan mereka dengan pasangan terlihat dari luar lebih penting dari apa yang mereka rasakan sesungguhnya.

  1. Cinta yang rumit (complicated love)

Jatuh cinta yang kedua kalinya adalah perasaan cinta yang paling rumit. Pada fase ini, hubungan kerap dibumbui dengan manipulasi, kebohongan, dan saling menyakiti satu sama lain. Orang yang merasakannya kerap berusaha untuk memperbaiki hubungan mereka, tapi ujung-ujungnya selalu gagal.

  1. Cinta yang dewasa (mature love)

Cinta ini biasanya hadir di saat yang tak ditunggu-tunggu. Meskipun tidak sempurna, tetapi hubungan yang terjadi terasa begitu tulus. Sebab, semakin dewasa seseorang, dirinya tak lagi punya ekspektasi yang terlalu tinggi. Jadi, bisa menerima pasangannya secara apa adanya. 

Itu dia tiga tahapan jatuh cinta menurut psikolog. Apakah kalian setuju dan pernah merasakannya?

Total
0
Shares
Previous Article

Mulai Dari Sering Dibohongi Hingga Diposesifin, Ini Tanda-tanda Hubungan Pertemananmu Udah Enggak Sehat

Next Article

Kisah Legenda Putri Mandalika Dari Lombok Yang Kini Jadi Nama Sirkuit

Related Posts
Read More

6 TIPS CARI KERJA DI MASA PANDEMI

Mencari pekerjaan saat pandemi Covid-19 terasa lebih menantang daripada sebelumnya. Jumlah perusahaan yang membuka lowongan tidak sebanyak dulu, sedangkan jumlah pencari kerja kian bertambah. Namun, sulit bukan berarti mustahil.