Gimana Sih, Etika Membunyikan Klakson Supaya Orang-orang Gak Jengkel?

Hari Jumat biasanya identik dengan bermacet-macetan di jalan. Tak jarang, suara klakson dari kendaraan roda dua dan empat di lampu merah terdengar sana-sini dan menjengkelkan untuk didengar.

Kali ini, kita akan memberikan sedikit ‘trivia’ tentang etika membunyikan klakson supaya nggak bikin orang-orang jengkel di jalan.

Pertama, jangan membunyikan klakson berkali-kali. Selain dapat memancing emosi dan kegaduhan, ternyata aturan maksimal untuk membunyikan klakson adalah sebanyak dua kali. Biasanya, banyak yang memencet klakson dengan ritme yang panjang sehingga mengganggu dan membuat pengguna jalan lainnya merasa terburu-buru.

Kedua, jangan membunyikan klakson saat lampu hijau baru menyala. Nah, hal ini yang paling sering terjadi. Mungkin maksudnya memberikan isyarat kalau lampu sudah hijau waktunya jalan. Namun, perlu diketahui kalau hal itu sebenarnya menjengkelkan bagi setiap orang.

Melansir dari IDN Times, aturan penggunaan klakson di Indonesia diatur dalam Peraturan Pemerintah nomor 55 tahun 2012 tentang Kendaraan.

Dalam aturan tersebut di pasal 35, menyebutkan kalau klakson merupakan komponen pendukung yang harus ada di kendaraan bermotor selain pengukur kecepatan, kaca spion, penghapus kaca (kecuali sepeda motor), spakbor dan bumper (kecuali sepeda motor).

Terkait bunyi klakson tertuang di pasal 39 yang menyebutkan bahwa klakson harus mengeluarkan bunyi serta bisa digunakan tanpa mengganggu pengemudi kendaraan lain. Selain itu, dalam pasal 69 tertulis suara klakson paling rendah adalah 83 dB dan paling tinggi 118 desibel.

Ada juga Peraturan Pemerintah nomor 43 tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan di pasal 71. Isinya membeberkan apa-apa yang boleh dan tak boleh dilakukan oleh pengguna dengan klakson kendaraannya.

Source Photo from Getty Images/Kryzhov

Total
0
Shares
Previous Article

Meski Terbaring di Rumah Sakit, Pria Ini Tetap Berhasil Menangkan Turnamen Valorant

Next Article

Masih Remaja Kok Badannya Sudah Jompo? Kenapa Ya?

Related Posts