GEJALA COVID HAPPY HIPOXIA DITEMUKAN DI KALBAR, ABIS KETAWA TIBA-TIBA MENINGGAL

Muncul gejala baru covid-19 yang disebut happy hypoxia. Gejala ini ditemukan di Bengkayang, Kalimantan Barat.

Muncul gejala baru covid-19 yang disebut happy hypoxia. Gejala ini ditemukan di Bengkayang, Kalimantan Barat.

Dikutip dari Antara, Kamis (8/7/2021), Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, I Made Putra Negara, memberikan penjelasan happy hypoxia.

“Kondisi tersebut membuat seseorang mengalami masalah dalam pernapasan berupa sesak napas atau dispnea. Kasus ini sudah ada di Bengkayang,” jelasnya.

Dijelaskan, gejala happy hypoxia bisa mengakibatkan kematian mendadak.

“Kasusnya orangnya bisa jalan-jalan, bisa ketawa-ketawa, tiba-tiba sesak napas dan meninggal. Itu yang dikenal dengan happy hypoxia. Sudah ada kasusnya di Bengkayang. Kami juga berduka ada salah satu kepala puskesmas di Bengkayang meninggal, yang juga sesaknya mendadak,” katanya.

Istilah happy hypoxia atau silent hypoxemia mulai marak digunakan sejak pandemi COVID-19 melanda. Hypoxia sendiri adalah kondisi kadar oksigen yang drop di jaringan tubuh, sedangkan hypoxemia penurunan tekanan oksigen dalam darah.

Kedua kondisi, hypoxia dan hypoxemia, umumnya menyebabkan sesak napas atau dyspnea. Bila tidak tertangani, kondisi tersebut bisa memicu kerusakan jaringan yang berakibat fatal.

Menurut beberapa laporan, pasien COVID-19 tidak mengalami masalah pernapasan maupun keluhan sesak napas meski kadar oksigen dalam darah dan jaringan tubuhnya turun. Pada pemeriksaan oximeter, diindikasikan dengan saturasi oksigen yang sangat rendah.

Kondisi hypoxia maupun hypoxemia yang tidak disertai keluhan sesak napas inilah yang kemudian populer dengan sebutan happy hypoxia atau silent hypoxemia.

Spesialis paru dari RS Persahabatan, dr Erlina Burhan MSc, SpP, menjelaskan bahwa happy hypoxia terjadi karena ada kerusakan pada saraf yang mengantarkan sensor sesak ke otak. Normalnya, tubuh yang kekurangan oksigen akan mengirim sinyal ke otak.

“Tapi pada beberapa pasien COVID-19, kondisi ini (sesak) tidak terjadi karena sudah ada kerusakan pengiriman sinyal ke otak,” kata dr Erlina dalam siaran Youtube BNPB, Rabu (16/9/2020).

sumber : detik.com

Total
0
Shares
Previous Article

AWAL MULA PETAKA COVID-19 DELTA DI RI KARENA PESAWAT CARTER INDIA

Next Article

HARGA TABUNG OKSIGEN DI DKI NAIK DRASTIS HINGGA 900 PERSEN

Related Posts