DANA NASABAH BRI LIFE, BPJS, HINGGA PASIEN COVID-19 DI INDONESIA BOCOR

Selama pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia termasuk Indonesia ternyata memicu peningkatan ancaman keamanan siber.

Selama pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia termasuk Indonesia ternyata memicu peningkatan ancaman keamanan siber.

Mulai dari platform belanja online, media sosial hingga aplikasi bidang keuangan mengalami kebocoran data. Bahkan, situs salah satu lembaga negara juga menjadi incaran para pelaku kejahatan siber.

Salah satunya adalah dugaan data pribadi nasabah BRI Life dicuri akhir Juli 2021. Kasus itu bermula saat perusahaan pemantau kejahatan cyber, Hudson Rock menyebutkan dalam akun twitternya bila pencurian data dialami BRI Life.

Database yang bocor memiliki pin polis asuransi (sha1), lengkap tentang pelanggan yang menggunakan ASURANSI BRI LIFE, total manfaat, dan total periode tahun.

Ada sebanyak 463.519 file dokumen dengan ukuran mencapai 252 GB dan juga ada file database berisi 2 juta nasabah BRI Life berukuran 410MB. Untuk sampel sendiri yang diberikan berukuran 2,5 GB berisi banyak file dokumen. Dua file lengkap tersebut ditawarkan dengan harga US$7.000 dan dibayarkan dengan bitcoin.

Dari sampel yang didapat, datanya sangat lengkap. Mulai dari data mutasi rekening, bukti transfer setoran asuransi, KTP, ada juga tangkapan layar perbicangan WA nasabah dengan pegawai BRI Life, dokumen pendaftaran asuransi, KK, beberapa formulir pernyataan diri dan kesanggupan, bahkan lengkap dengan polis asuransi jiwa juga lengkap disertakan.

Ahli menyimpulkan sumber kebocoran data akibat peretasan, bukan hasil jual beli data dari pihak internal atau pegawai.

Tidak hanya itu, sebanyak 279 juta data penduduk Indonesia yang bocor dan dijual di forum hacker diduga berasal dari BPJS Kesehatan pada Mei 2021.

Data yang bocor mencakup data kependudukan anggota TNI dan Polri. Data yang dijual itu terdiri dari namma lengkap, KTP, nomor telepon, email, NID dan alamat.

Kemudian pada akhir Juni 2020, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menelusuri dugaan peretasan basis data pasien COVID-19.

Kominfo mengatakan database COVID-19 dan hasil cleansing yang ada di data center aman. Kominfo juga berkoordinasi dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), selaku penanggung jawab keamanan data COVID-19 di Indonesia.

Total
0
Shares
Previous Article

PRESIDEN JOKOWI BAGIKAN BANSOS RP 1,2 JUTA KEPADA UMKM

Next Article

TURKI DILANDA KEBAKARAN HUTAN

Related Posts