BENARKAH “TOXIC” MERUPAKAN ISTILAH PSIKOLOGIS?

Akhir-akhir ini kata “toxic” sering digunakan untuk menggambarkan suatu masalah hubungan sosial atau hubungan. Contohnya, toxic relationship, toxic friendship, atau toxic positivity.

Akhir-akhir ini kata “toxic” sering digunakan untuk menggambarkan suatu masalah hubungan sosial atau hubungan. Contohnya, toxic relationship, toxic friendship, atau toxic positivity.

Karena istilah ini juga sering digunakan untuk menggambarkan kepribadian seseorang yang “beracun” atau dianggap bermasalah, akhirnya banyak orang mengira kalau toxic merupakan istilah psikologis. Namun, benarkah demikian?

Psikologi dari Universitas Indonesia, Rose Mini Agoes Salim, mengatakan bahwa toxic sebenarnya belum masuk sebagai istilah psikologi. Pendapat serupa juga dikemukakan oleh psikiater di Klinik Psikosomatik OMNI Hospital Alam Sutera, Andry.

“Belakangan ini ya (baru ramai soal istilah toxic), 5 tahun belakangan. Istilah psikologi ini sebenarnya jadi lebih berkembang. Dalam pelajaran kami juga, di buku textbook itu nggak ada itu istilah toxic positivity, toxic relationship. Itu adalah bahasa psikologi populer,” ujarnya, seperti dikutip dari cnnindonesia.com (13/12/2021).

Andry pun merasa perlu menekankan pengertian ini kepada masyarakat agar mereka tak salah sangka. Ia mengingatkan, toxic adalah kata populer bukan istilah diagnosis kedokteran.

Menurut Romi (panggilan akrab Rose Mini), istilah psikologis dari toxic sejatinya adalah codependent relationship. Ia menjelaskan, codependent relationship digunakan untuk menggambarkan hubungan yang salah satu pihaknya lebih banyak memberi daripada menerima, tidak bisa mengambil keputusan sendiri, serta terlalu bergantung pada pasangan.

“Jadi istilah awamnya dan menjadi tren itu ya dibilangnya toxic nih, racun. Jadi menjalani sesuatu yang beracun makanya dikatakan sebagai toxic,” kata Romi.

Ia melanjutkan, kata toxic menjadi populer di tengah masyarakat karena mudah untuk dikatakan. Namun, untuk mengetahui masalah psikologis dari suatu hubungan atau karakteristik kepribadian seseorang yang sebenarnya, orang perlu menjalani pemeriksaan dengan psikolog atau psikiater lebih dulu.

Jadi, jangan salah sangka ya!

Total
0
Shares
Previous Article

HATI-HATI, JALUR PUNCAK AKAN DITUTUP PADA MALAM TAHUN BARU

Next Article

4 ZODIAK YANG TERKADANG ENGGAK SADAR DIRINYA CEROBOH. KAMU SALAH SATUNYA?

Related Posts